Sebagai bulan yang bersembunyi di balik awan, adalah Indonesia tanah airku!
Perlahan-lahan, awan kabut yang tadinya amat kebat meliputinya, mulailah pula berhindar, berhindar dan berhindar, akhirnya cahaya gilang-gemilang yang tadinya ta’ lain dan ta’ bukan hanya cahaya suram kelam saja, mulailah pula kelihatan.
Indonesia Tanah Airku!
Sebagai sekuntum bunga melur, yang sudah mulai layu, hampir akan gugur jatuh ke tanah, turun bunga turun daunnya, adalah Indonesia Tanah Airku.
Perlahan-lahan, dari sedikit ke sedikit, mulailah pula kena panas matahari dan ditimpa oleh hujan yang sejuk sedap rasanya.
Kembang yang tadinya hampir-hampir saja hilang lenyap di muka bumi ini karena ta’ ada harga ta’ ada retiya, mulailah pula segar mekar dan berseri muda kembali.
Indonesia Tanah Airku!
Sebagai seorang anak dara yang terkongkong oleh adat, adalah Indonesia Tanah Airku!
Perlahan-lahan, tali ikatan adat yang tadinya amat erat mengebatnya, mulailah pula melepaskan kaki tangannya, dan meskipun dengan rupa yang masih amat kemalu-maluan sekali anak dara itu mulailah pula memperlihatkan wajahnya yang berseri cemerlang itu.
Lagu suaranya yang sedap merdu itu, mulailah pula terdengar.
Senyum simpulnya yang amat menawan itu, mulailah pula menghibur hati anak-anak muda.
Senyum simpulnya yang amat menawan itu, mulailah pula menghibur hati anak-anak muda.
Indonesia Tanah Airku!
Berseri semaraklah o, Bulan!
Mekar mengharumlah o, Kembang!
Dan naiklah o, lagu Anak Dara wajah cemerlang!
Indonesia Tanah Airku!
Sumber: Pujangga Baru, September 1933
Perlahan-lahan, awan kabut yang tadinya amat kebat meliputinya, mulailah pula berhindar, berhindar dan berhindar, akhirnya cahaya gilang-gemilang yang tadinya ta’ lain dan ta’ bukan hanya cahaya suram kelam saja, mulailah pula kelihatan.
Indonesia Tanah Airku!
Sebagai sekuntum bunga melur, yang sudah mulai layu, hampir akan gugur jatuh ke tanah, turun bunga turun daunnya, adalah Indonesia Tanah Airku.
Perlahan-lahan, dari sedikit ke sedikit, mulailah pula kena panas matahari dan ditimpa oleh hujan yang sejuk sedap rasanya.
Kembang yang tadinya hampir-hampir saja hilang lenyap di muka bumi ini karena ta’ ada harga ta’ ada retiya, mulailah pula segar mekar dan berseri muda kembali.
Indonesia Tanah Airku!
Sebagai seorang anak dara yang terkongkong oleh adat, adalah Indonesia Tanah Airku!
Perlahan-lahan, tali ikatan adat yang tadinya amat erat mengebatnya, mulailah pula melepaskan kaki tangannya, dan meskipun dengan rupa yang masih amat kemalu-maluan sekali anak dara itu mulailah pula memperlihatkan wajahnya yang berseri cemerlang itu.
Lagu suaranya yang sedap merdu itu, mulailah pula terdengar.
Senyum simpulnya yang amat menawan itu, mulailah pula menghibur hati anak-anak muda.
Senyum simpulnya yang amat menawan itu, mulailah pula menghibur hati anak-anak muda.
Indonesia Tanah Airku!
Berseri semaraklah o, Bulan!
Mekar mengharumlah o, Kembang!
Dan naiklah o, lagu Anak Dara wajah cemerlang!
Indonesia Tanah Airku!
Sumber: Pujangga Baru, September 1933